0

Apa bedanya kura" jantan & Betina yaa??

Published at 19.16 in


Tubuh Kura-kura dilindungi oleh sejenis pelat tulang yang membentuk cangkang serupa Batok yang menempel di ‘Punggung’nya (bony shell), ada dua pelindung bagi tubuh kura-kura. dibagian atas, berupa Karapas dan bagian bawah tubuhnya di sebut Plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung.


Kura-kura bukan hanya pembiak yang antusias, tetapi juga memiliki karakteristik seksual eksternal yang sering menyulitkan mahluk lain selain kura-kura untuk menentukan yang mana jantan dan yang mana betina.


Pada Beberapa Spesies, jantan dan betina dapat dibedakan dari ukuran ekor, biasanya ekor pada kura-kura jantan lebih panjang, tapi Ukuran Betina lebih besar bila dibandingkan dengan jantannya. Kura-kura Jantan dapat dikenali juga dengan adanya lekukan pada plastronnya atau cangkang bagian bawah. lekukan ini akan pas dengan bagian belakang kura-kura betina, kura-kura betina memiliki plastron yang datar atau cembung. Untuk membuahi telur betina, kura-kura jantang menyembunyikan organ seksualnya di dalam kloaka atau saluran pembuangan. Saat membuahi betina posisi jantan itu sendiri berada diatas betina dan sering kali mencengkram cangkang atas atau karapas betina dengan dengan cakarnya, kemudian mengaitkan ekornya hingga lubang kloaka jantan bertemu dengan kloaka betina. Seringkali lusinan telur berkembang secara internal dan biasanya diletakkan dan dikubur dalam tanah berpasir.

Fertilisasi terkadang didahului oleh ritual percumbuan yang rumit, dimulai dengan demonstrasi tarian selama berjam-jam lalu diikuti kopulasi yang hanya berlangsung beberapa menit. Kura-kura betina dapat menyimpan sperma jantan untuk membuahi telurnya, kadang-kadang telur dibuahi setelah bertahun-tahun kemudian.
READ MORE - Apa bedanya kura" jantan & Betina yaa??

0

100 Penyu Sisik Dilepas: Habitat Hidupnya Semakin Terdesak

Published at 18.49 in

catatan asti:
program lepasliar setelah beberapa bulan/hari ditangkarkan biasa dinamakan "headstarting".
konsep "headstarting" sebenarnya simpel. Telur dijaga dan tukik (penyu yang baru menetas) dibesarkan sampai mereka cukup kuat menghadapi ancaman predator.
tukik yang baru menetas terancam oleh kepiting, elang, ikan yang lebih besar. sementara tukik yang sudah agak besar relatif lebih aman karena ukuran tubuhnya yang lebih besar.
ide yang diusung oleh "headstarting" adalah: meningkatnya ukuran tubuh penyu juga meningkatkan peluang hidup penyu
sementara ide-nya se-simpel itu,, pelaksanaanya ternyata ga mudah.
banyak ahli mempertanyakan: berapa lama sebaiknya tukik 'ditangkarkan'?, bagaimana memastikan bahwa tukik mendapatkan asupan gizi yang layak untuk pertumbuhan karapasnya? apakah benar peluang hidup penyu meningkat dengan program "headstarting" itu?




meskipun program ini terlihat "seksi" dari sudut pandang politis dan mengundang perhatian publik (bayangkan,, kamu bisa dateng ke lokasi penangkaran dan bisa berfoto dan bahkan menyentuh tukik ataupun penyu yang sudah agak besar)
tetapi..... kenyataannya :
  1. untuk membuat tempat penangkaran tukik diperlukan biaya yang banyak (bangunan, sistem pompa air laut, sistem pengatur temperatur listrik, dan yang paling penting: pakan)
  2. biasanya tukik yang sudah ditangkarkan akan menjadi manja, dan ketika mereka dilepaskan ke laut,, mereka nda mampu cari makan sendiri
  3. yang lebih parah,, mereka akan kehilangan kemampuan alami mereka dalam merekam memori pantai tempat mereka menetas (karena begitu menetas, mereka langsung masuk ke tempat penangkaran). padahal, kemampuan tersebut akan mereka gunakan dalam menentukan lokasi mereka bertelur (kebayang nda kalo mereka kemudian bingung mau bertelur dimana?)
terus,, gimana keberlanjutan hidup mereka? kalo mereka ngga mampu cari makan sendiri,, kira kira mereka mampu ngga ya sampe ke tingkat reproduksi?

benarkah program "headstarting" dan penangkaran penyu memperbesar peluang hidup si penyu?
(bocoran informasi: sejak tahun 2001 para ahli penyu dunia sudah meragukan keberhasilan "headstarting". silahkan update informasi kamu di www.seaturtle.org)


Padang, Kompas-Sejumlah 100 ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dilepasliarkan ke laut dari Pantai Jambak, Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (22/4). Penyu sisik ini merupakan satu dari tiga jenis penyu terancam punah yang ditemukan di pesisir laut Sumatera Barat. Penyu betina yang dilepasliarkan itu merupakan hasil pembiakan dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan (SPH) Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Andalas. Telur penyu ditetaskan bulan Agustus lalu.

Kurniadi Ilham, peneliti penyu sekaligus Kepala Laboratorium SPH, mengatakan, penyu siap dilepasliarkan setelah berusia minimal tiga bulan, atau setelah rumah penyu atau karapas mengeras. ”Selama habitat penyu tidak diganggu atau tidak ada pemangsa di pantai, penyu yang dilepasliarkan bisa bertahan hidup,” kata Kurniadi. Penyu yang dilepasliarkan itu diharapkan bisa berkembang biak dan menambah jumlah populasi penyu di alam.

Peneliti perikanan dari Jurusan Biologi Universitas Andalas, Syaifullah, mengatakan, masa perkembangbiakan penyu sisik enam sampai 30 tahun. Hanya saja, dari 100-120 butir telur yang dikeluarkan sekali bertelur, hanya dua sampai tiga ekor penyu baru yang akan bertahan hidup. Dari sejumlah penelitian, penyu akan kembali ke tempat awal mereka dilepaskan, kendati mereka punya daerah jelajah sampai 3.000 kilometer. Hanya saja, pantai tempat penyu dilepasliarkan itu harus tetap asli dan tidak tersentuh aktivitas manusia.

Mata rantai
Dekan Fakultas MIPA Universitas Andalas, Ardinis Arbain, mengatakan, penyu menjadi mata rantai makanan yang penting dalam habitat laut. Karena itu, keberadaan penyu dibutuhkan di laut. Selain itu, penyu merupakan satwa purba yang masih bertahan hingga kini.

”Kalau disepadankan, usia penyu ini sama dengan usia dinosaurus. Daya evolusi penyu yang besar membuat hewan ini masih bisa kita temui hingga kini,” tutur Ardinis. Sayangnya, habitat hidup penyu semakin terdesak. Selain pencemaran sungai, pemanfaatan pantai sebagai tempat wisata dan permukiman penduduk juga membuat penyu enggan bertelur di pantai karena hewan ini membutuhkan tempat di tepi pantai yang gelap serta jauh dari aktivitas manusia.

Selain itu, perburuan penyu juga semakin gencar terjadi di Sumatera Barat, terutama untuk dikonsumsi. Di daerah Muaro Padang, telur penyu dijual bebas seharga Rp 5.000-Rp 7.500 per butir. Selain itu, kerapas dijual seharga Rp 2 juta per buah. Selain penyu sisik, dua jenis penyu lain yang ditemukan di Sumatera Barat adalah penyu belimbing dan penyu hijau. Ketiganya merupakan bagian dari tujuh jenis penyu yang terancam punah, tetapi masih ditemui di dunia ini hingga sekarang.

Pulau Toran
Kepala Bapedalda Kota Padang Indang Dewata serta Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang Eyviet Nazmar mengatakan, Pemkot Padang tengah menyiapkan Pulau Toran—salah satu dari 19 pulau kecil yang ada di wilayah Kota Padang—sebagai pulau khusus konservasi penyu.

”Saat ini, kami sedang melakukan survei ulang pulau tersebut serta menyiapkan sarana dan prasarana di pulau itu untuk menunjang lokasi sebagai tempat konservasi penyu,” tutur Eyviet. Pulau Toran terletak sekitar 3 mil dari daratan Sumatera, sehingga relatif aman dari aktivitas manusia. Pulau ini juga cocok sebagai tempat penyu bertelur. Pemkot Padang menargetkan operasional pulau ini pada tahun 2009. (ART)
Sumber: Kompas, 23 April 2008
READ MORE - 100 Penyu Sisik Dilepas: Habitat Hidupnya Semakin Terdesak

0

Penyu Leher Ular Yang Hampir Punah !!

Published at 18.38 in

Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.

Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins). 
 Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.

Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:

* Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
* Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
* Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti) 
 Kura-kura berleher ular dari Pulau Roti (Chelodina mccordi) -- kura-kura kecil berleher panjang -- yang hanya ditemukan di lahan basah di Pulau Roti, bagian timur Indonesia diambang kepunahan karena tinggingnya permintaan internasional untuk spesies itu.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh perwakilan dari World Wildlife Fund (WWF) Desmarita Murni di Jakarta, Jumat.

Kura-kura endemik tersebut, kata dia, telah menjadi spesies baru sejak 1994, dan populasinya terus menurun akibat perdagangan internasional ilegal.

Menurut dia, tidak ada perdagangan resmi yang diizinkan untuk spesies itu sejak 2001. Namun deskripsi yang ada menunjukkan, spesies itu diekspor secara tidak resmi sebagai spesies yang lain, yaitu kura-kura berleher ular dari New Guinea (C. novaeguineae), yang merupakan spesies dilindungi di Indonesia sejak 1980.

Laporan terbaru yang dikeluarkan TRAFFIC (jaringan pemantau perdagangan satwa dan tumbuhan liar) berjudul "Perdagangan Kura-Kura Berleher Ular dari Pulau Roti Chelodina mccordi" menemukan bahwa penangkapan dan perdagangan satwa ini tidak dilaksanakan berdasarkan peraturan resmi yang berlaku di Indonesia.

Meskipun, lanjut dia, sebelumnya ada kuota nasional yang diberikan untuk pemanenan dan ekspor spesies C. mccordi antara tahun 1997 dan 2001, tetapi tidak ada lisensi yang dikeluarkan untuk melakukan koleksi (pengumpulan), termasuk tidak ada izin pemindahan (transportasi) yang dikeluarkan dari tempat sumber spesies ini ke tempat-tempat ekspor dalam wilayah Indonesia.

Menurut WWF, semua specimen C. mccordi yang telah diekspor sejak 1994 dilakukan secara illegal.

Sebagai bukti, terancamnya kelangsungan spesies tersebut, pada 2000 daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengkategorikan spesies itu kedalam status kritis (critically endangered), dan pada tahun yang sama kura-kura berleher ular dari Pulau Roti itu dievaluasi berada diambang kepunahan.

Spesies itu, kata dia, masuk dalam daftar Appendix II Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Species Satwa dan Tumbuhan Dilindungi (CITES), dimana semua perdagangan internasional terhadap satwa ini harus dilaksanakan sesuai sistem resmi yang berlaku.

Walaupun begitu di Indonesia, lanjut dia, monitoring dan penegakan hukum untuk melindungi satwa liar dari eksploitasi berlebihan sangat lemah dan di beberapa tempat tidak terlihat.

Padahal, jika peraturan-peraturan, misalnya untuk penangkapan dan pemindahan satwa liar ini tidak ditegakkan, keberadaan spesies tersebut di alam dipastikan akan punah dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, salah satu elemen penting untuk melindungi satwa tersebut adalah peningkatan kesadaran dan pengetahuan aparat terkait.

"Kami berharap dengan meningkatnya kapasitas dan kesadartahuan aparat penegak hukum, akan semakin sulitlah bagi pemburu dan pedagang liar untuk menyelundupkan kura-kura berkepala ular yang tersisa di Pulau Roti," kata Chris Shepherd dari TRAFFIC Asia Tenggara yang juga merupakan penulis laporan itu.

Untuk melindungi kura-kura berleher ular itu, Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) juga bekerja sama dengan LIPI, sebagai Otoritas Ilmiah CITES (Konvensi Mengenai Perdagangan Internasional Terhadap Species Satwa dan Tumbuhan Dilindungi) di Indonesia, untuk memasukkan kura-kura berleher ular dari Pulau Roti ke dalam daftar spesies yang dilindungi penuh.
READ MORE - Penyu Leher Ular Yang Hampir Punah !!

0

Penyu Hijau dan Penyu Sisik Terancam Punah !!

Published at 18.31 in

ANAMBAS- Peneliti dari California Academy of Sciences, Amerika Serikat, Prof. Dr. Wallace J. Nichols mengatakan, dua penyu langka yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Anambas terancam punah. Ancaman ini terjadi jika tidak ada upaya pelestarian habitat satwa tersebut dalam kurun waktu sampai 20 tahun ke depan. Saat ini, menurut Wallace, populasi dua penyu yakni penyu sisik dan penyu hijau yang hanya terdapat di Pulau Durai tersebut kian berkurang dan terus terancam. Diperkirakan, saat ini populasi kedua penyu tinggal 2000 ekor saja. ”Kita harus segera melestarikan penyu-penyu tersebut. Jika tidak, maka kita akan dirugikan karena kehilangan penyu langka,” kata pria yang akrab dipanggil Jack tersebut, Minggu (21/2) lalu. Menurut Jack melalui Nina Marliana, Goverment Affairs Manager Primere oil Indonesia, di dunia ini, hanya ada tujuh jenis penyu langka dimana dua diataranya ada di Kabupaten Anambas. Sebab itu, keberadaan dua penyu langka ini sangat menarik perhatian dunia untuk ikut serta melestarikan dengan menjaga ekosistemnya.
“Patut disyukuri daerah ini memiliki  satwa yang langka. Jika sampai punah, ini merupakan satu kerugian besar tidak hanya bagi Anambas atau Indonesia namun juga bagi dunia internasional. Saatnya kita peduli, menaruh perhatian besar dan niat baik untuk menjaga populasi penyu sisik dan penyu hijau ini,” kata
Kata Jack, sekarang penyu-penyu yang bertelur dipulau Durai semakin sedikit. Padahal sebelumnya, setiap malamnya sekitar 40 ekor penyu naik ke pantai untuk bertelur. Namun saat ini paling banyak hanya delapan ekor saja yang naik untuk bertelur. Kondisi ini merupakan salah satu indikator yang menunjukan bahwa populasi penyu semakin berkurang yang salah satu penyebabnya adalah adanya tangan-tangan jahil manusia yang menangkap dan menjual penyu tersebut.
“Hal ini patut kita waspadai. Kalau ingin penyu- penyu yang ada ingin tetap lestari, maka tugas kita bersama untuk menjaga penyu-penyu tersebut selamat dari ancaman kepunahan,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap satwa ini, lanjut Jack, pihaknya berinisiatif menyewa lahan yang menjadi habitat penyu. Langkah ini selain untuk menjaga kelangsungan penyu juga untuk membatasi aktivitas perburuan penyu. (sm/28)


READ MORE - Penyu Hijau dan Penyu Sisik Terancam Punah !!

0

Munculnya sang KADAL RAKSASA yang “VEGETARIAN”

Published at 19.54 in

Penemuan super heboh taun ini di Philiphina, dimana species biawak yang baru ditemukan oleh seorang ilmuan di pegunungan Siera Madre-Philipine. Kadal ini memiliki panjang tubuh utama mendekati 1m, dan tambahan  ekor sepanjang 1m, dan memiliki kulit gelap tertutup oleh titik-titik kuning emas dan bintik-bintik. Kaki-kakinya didominanasi warna kuning, dan ekornya bergaris-garis hitam dan kuning. Pada beberapa gambar, binatang itu juga terlihat memiliki sisik berwarna hijau atau biru.
Spesies baru yang dinamai Varanus bitatawa ini diperkirakan bertahan hidup hanya dengan mengkonsumsi buah-buahan alias Vegetarian, dan itu menjadikannya salah satu dari tiga jenis kadal pemakan buah di dunia. Biawak ini juga termasuk kadal terbesar di dunia selain Komodo (V. komodoensis), yang dapat mencapai hingga 3m-panjang dan berat sampai 90kg serta biawak Buaya atau Salvadori’s (Varanus salvadorii) di papua, biawak ini mungkin juga bisa mencapai panjang yang sama.Uniknya lagi Satu ciri khususnya adalah biawak ini memilki penis ganda (wah gila bokk , bisa Polygami nih..)
 Para peneliti menduga 22-pound (10 kilogram) spesies kadal ini lolos dari deteksi ilmiah hingga kini adalah karena  tempat tinggal Varanus bitatawa, Kadal pemakan buah2an ini sangat sangat rahasia, Mereka menghabiskan waktu mereka di pohon-pohon tinggi, lebih dari 20 meter di atas tanah.” Spesies kadal serupa menghabiskan waktu kurang dari 20 menit di tanah.
READ MORE - Munculnya sang KADAL RAKSASA yang “VEGETARIAN”

0

Long-Tailed Lizard

Published at 19.46 in

Kadal ekor panjang ini adalah hewan tropis pemakan serangga yang aktif di siang hari dan hewan komunal. Kadal ini bisa hidup satu kandang dengan tokek rumah, katak pohon atau anole hijau. Kadal ini memakan serangga kecil yang masih hidup seperti jangkrik, ulat bambu atau ulat jerman. Beri makan kadal ekor panjang yang masih muda 2 kali sehari dan untuk dewasa berikan makan 3-4 kali seminggu. Akan lebih bagus kalau serangga yang akan diberikan pada kadal ini dibubuhi bubuk kalsium dulu. Sediakan air secukupnya dan ganti air yang tidak habis tiap hari. Juga buang sisa serangga yang tidak habis dimakan karena serangga mati bisa menyebabkan jamur dan pembusukan.
Ciri ciri kadal yang sehat adalah kadal akan selalu aktif, matanya jernih, sheding teratur selama masa pertumbuhannya, makan dan minum normal, bernafas tidak terengah-engah dan kotoran yang padat tiap 2-3 hari sekali.
Segera bawa ke dokter hewan jika kadal mencret selama 2 hari berturut turut atau lebih, lesu, tidak mau makan dan minum hingga berat badannya berkurang, sendi sendi yang bengkak, ada lendir dari hidung, mata dan mulut dan masalah sheding.
Untuk kandang, gunakan kandang yang berukuran 76 liter atau lebih dengan tutup yang berventilasi. Yang paling penting, sediakan tempat sembunyi dan juga cabang cabang pohon untuk memanjat. Jaga kelembabannya pada 70-80%.
Untuk suhunya, pada siang hari jaga suhunya antara 24-29o Celcius dan 21-24o Celcius pada malam hari. Sedangkan untuk berjemur, sediakan lampu di satu titik untuk tempat berjemur dengan suhu 29-32o Celcius. Kadal ini butuh kandang yang hangat tapi lembab.
Jika kandang diletakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari, pasang lampu selama kira 12 jam per hari untuk membantu proses penyerapan kalsium. Alasi kandang dengan serat kelapa hingga ketebalan 5-8 cm untuk menjaga tingkat kelembaban. Bersihkan kotoran kadal seminggu sekali dan ganti alas kandang sebulan sekali untuk mencegah pertumbuhan jamur & lumut.
Kadal ini sangat rentan dan seharusnya tidak terlalu sering dipegang. Jika terpaksa dipegang, jangan pegang bagian ekornya karena mudah sekali putus.
Semua binatang yang bergigi pasti menggigit dan kemungkinan  bisa menularkan penyakit pada manusia jadi jagalah kebersihan hewan peliharaan anda dan cuci tangan sebelum dan sesudah memegang hewan peliharaan anda.

READ MORE - Long-Tailed Lizard